Sabtu, 25 September 2010

Bab 3 Silaturahmi - Hadits ke-2

Hadits ke-2

Diriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya ( dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi." ( Hadits Muttafaq 'alaih, Misykat ).

Keterangan
Maksud dilamakan bekas telapak kakinya adalah dipanjangkan umurnya. Karena semakin banyak umur seseorang, maka semakin banyaklah jejak telapak kakinya yang berbekas di atas bumi, dan jika ia meninggal dunia, maka jejak kakinya akan terhapus dari bumi. Terhadap hal ini, banyak yang bertanya bahwa umur setiap orang itu sudah di tentukan. Lalu bagaimana yang dimaksud dengan hadits ini? Di beberapa tempat dalam Al-Qur'an disebutkan dengan jelas bahwa setiap orang mempunyai waktu yang sudah ditentukan, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa diundur, karena itu sebagian ulama mengartikannya sebagai "keberkahan" sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa rezekinya akan dilapangkan. Waktunya sangat berkah sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain dalam beberapa hari dapat dilakukan olehnya dalam beberapa jam saja. Dan pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain dalam waktu berbulan-bulan dapat diselesaikan olehnya dalam hitungan hari. Sebagian ulama mengartikan, maksud dipanjangkan umurnya adalah dikenang kebaikannya dan dipuji, yakni orang-orang menyebut kebaikannya hingga beberapa lama. Sebagian ulama menulis, maksudnya adalah anak-anaknya bertambah, sehingga silsilahnya akan terus berlangsung hingga beberapa lama setelah ia meninggal dunia. Itulah beberapa makna yang bisa disimpulkan.
Jika Nabi saw. yang sabdanya pasti benar telah memberitahukan hal tersebut, maka apa saja yang beliau sabdakan tentu benar adanya. Allah swt. adalah Dzat Yang Mahasuci, berkuasa mutlak, dan telah menciptakan semua wasilah. Bagi Dia, apa susahnya menciptakan wasilah. Dia mampu menciptakan wasilah bagi setiap benda yang Dia kehendaki, sehingga akal orang-orang yang pandai akan merasa takjub. Karena itu, kita tidak boleh meragukan sedikit pun tentang hal yang kita bicarakan ini. (Mazhahirul-Haqq). Takdir adalah suatu kepastian. Meskipun demikian, Allah swt. menjadikan dunia ini sebagai darul-asbab dan Dia telah menciptakan wasilah, baik yang dzahir ataupun yang batin untuk setiap sesuatu. Orang yang sakit perut akan datang kepada dokter atau yang lainnya dalam satu menit, karena mungkin akan mendapat faedah dari obat yang diberikan, dengan harapan agar panjang umur. Padahal, umur itu sudah ditentukan. Maka tidak ada alasan untuk tidak berusaha lebih keras memanjangkan umur dengan bersilaturahmi daripada berobat. Silaturahmi sebagai sebab panjangnya umur itu lebih pasti dibandingkan sebab lainnya. Inilah sabda seorang tabib yang ramuannya tidak pernah salah, sedangkan di dalam ramuan tabib dan resep dokter itu terdapat banyak kemungkinan untuk salah.
Sabda Rasulullah saw. yang baru saja disebutkan di atas ditulis di dalam beberapa hadits dengan pokok pembahasan yang berbeda-beda. Karena itu tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Ali r.a. meriwayatkan dalam sebuah hadits, "Barangsiapa yang mengambil tanggungjawab atas satu perkara, aku akan menjamin baginya empat perkara. Barangsiapa bersilaturrahmi, umurnya akan dipanjangkan, kawan-kawannya akan cinta kepadanya, rezekinya akan dilapangkan, dan ia akan masuk ke dalam surga." (Kanzul-'Ummal).
Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. bahwa tiga perkara berikut ini benar adanya: 1) Barangsiapa yang dizhalimi kemudian ia memaafkan, maka kemuliaannya akan bertambah. 2) Barangsiapa yang meminta-minta untuk meningkatkan hartanya, maka akan berkurang hartanya. 3) Barangsiapa yang membuka pintu pemberian dan silaturahmi, maka hartanya akan bertambah. (Durrul-Mantsur)
Faqih Abu Laits rah.a. berkata bahwa di dalam silaturahmi ada sepuluh perkara yang patut di puji:
1) Di dalamnya terdapat keridhaan Allah swt., karena silaturahmi adalah perintah-Nya.
2) Menggembirakan sanak saudara. Rasulullah saw. bersabda, "Amal yang paling utama adalah menyenangkan hati orang beriman."
3) Malaikat merasa sangat senang.
4) Orang Islam akan memujinya.
5) Syaitan laknatullah 'alaih akan sangat bersedih.
6) Silaturahmi dapat memanjangkan umur.
7) Silaturahmi menyebabkan keberkahan rezeki.
8) Orang-orang yang telah meninggal, yakni kakek dan ayahnya, merasa senang bila mengetahui perbuatannya itu.
9) Dengan bersilaturrahmi, hubungan antarsesama akan kuat. Jika kita menolong seseorang dan bermurah hati terhadap seseorang, maka pada waktu kita mengalami kesusahan dan mempunyai keperluan, ia akan menolong kita dengan sepenuh hati.
10) Setelah mati, kita akan selalu memperoleh pahala karena siapa saja yang kita tolong, ia akan selalu mengingat kita dan mendoakan kita.
Anas r.a. berkata, "Pada Hari Kiamat, ada tiga macam orang yang berada di bawah naungan 'Arsy Ar-Rahman:
1) Orang yang bersilaturrahmi, bahkan ketika di dunia umurnya akan dipanjangkan, rezekinya akan dilapangkan, dan kuburnya akan diluaskan.
2) Wanita yang ditinggal mati suaminya dan ia tidak menikah karena memelihara anak-anaknya yang masih kecil hingga menginjak dewasa, supaya tidak timbul kesulitan dalam merawat dan memelihara mereka.
3) Orang yang menyiapkan makanan kemudian mengundang anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Hasan r.a. meriwayatkan dari Rasulullah saw., "Ada dua langkah yang sangat disukai oleh Allah swt.:
1) Kaki yang dilangkahkan untuk menunaikan shalat fardhu.
2) Kaki yang dilangkahkan untuk bertemu dengan sanak saudaranya.
Sebagian ulama menulis, "Ada lima perkara, bila dikerjakan dengan istiqamah dan teguh, orang yang mengerjakannya akan memperoleh pahala seperti gunung dan menyebabkan luasnya rezeki. 1) Istiqamah dalam bersedekah, sedikit atau banyak. 2) Istiqamah dalam bersilaturrahmi, baik sedikit atau banyak. 3) Berjihad di jalan Allah swt. 4) Selalu dalam keadaan wudhu. 5) Selalu berbakti kepada kedua orangtua." (Tanbihul-Ghafilin).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa amalan yang pahalanya dan balasannya paling cepat diperoleh adalah silaturahmi. Bahkan ada orang-orang yang berdosa, tetapi karena senang bersilaturahmi, harta dan anak-anaknya diberkahi. (Ihya').
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dengan bersedekah, berbuat kebaikan, berbakti kepada kedua orangtua, dan bersilaturahmi dapat mengubah seseorang dari bernasib buruk menjadi bernasib baik, dan menjadi sebab bertambahnya umur dan menjauhkan dari kematian yang buruk. (Kanzul-'Ummal). Mengenai dipanjangkannya umur dan ditambah rezekinya telah banyak disebutkan dalam berbagai riwayat, sedangkan riwayat-riwayat yang disebutkan di atas baru sebagian kecil. Dua perkara di atas, yakni panjangnya umur dan bertambahnya rezeki selalu didambakan oleh manusia. Banyak orang yang berusaha keras demi untuk memperoleh dua hal tersebut. Rasulullah saw. telah menyebutkan satu cara yang mudah untuk mendapatkan keduanya, yaitu dengan bersilaturahmi, maka kedua harapan tersebut akan tercapai. Jika kita benar-benar yakin dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw., maka orang-orang yang ingin dipanjangkan umurnya dan bertambah rezekinya hendaknya mengamalkan silaturahmi ini sebanyak-banyaknya. Orang yang kaya hendaknya membelanjakan hartanya untuk kaum kerabatnya karena ia akan memperoleh janji yang berupa diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.





Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Bab 3 Silaturahmi - Ayat-ayat Tentang Ancaman Berbuat Buruk- Ayat ke-2

Ayat ke-2

"  Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan agar dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan, dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahannam)." ( Q.S. Ar-Ra'd: 25 ).

Keterangan
Diriwayatkan dari Qatadah rah.a., hendaknya kita menjauhi berjanji lalu melanggarnya, karena Allah swt. sangat membenci perbuatan tersebut. Dalam Al-Qur'an terdapat lebih dari dua puluh ayat yang menyebutkan ancaman terhadap perbuatan tersebut. Saya tidak tahu, apakah Allah swt. juga memberikan ancaman terhadap sesuatu yang lain melebihi ancaman yang Dia berikan karena melanggar janji. Barangsiapa yang berjanji dengan menyebut nama Allah, hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk menunaikannya.
Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. dalam khutbahnya bersabda, "Barangsiapa yang tidak menunaikan amanah, ia bukan orang yang teriman. Dan barangsiapa yang tidak menunaikan janji, ia bukan orang yang beragama." Masalah ini juga telah diriwayatkan dari Abu Umamah r.a. dan Ubadah r.a." (Durrul-Mantsur). Maimun bin Mihran rah.a. berkata, "Ada tiga perkara yang tidak membedakan antara orang kafir dan orang Islam, terhadap mereka dikenakan hukum yang sama.
1. Barangsiapa yang berjanji, hendaknya janji itu ditunaikan, baik janji terhadap orang kafir maupun terhadap orang Islam, karena pada hakikatnya, perjanjian itu adalah dengan Allah swt.
2. Menjaga hubungan kekeluargaan. Hubungan kekeluargaan hendaknya tetap dijaga, baik terhadap orang Islam maupun terhadap orang kafir.
3. Barangsiapa yang dititipi amanah, hendaknya dikembalikan dalam keadaan yang baik, baik yang menitipkan amanah itu orang kafir atau orang Islam. (Tanbihul-Ghafilin).
Dalam Al-Qur'an, ada satu ayat yang khusus memerintahkan untuk menunaikan janji.


"Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban." (Q.s. Bani Israil :34).
Qatadah rah. a. berkata, "Hubungan yang diperintahkan untuk disambung adalah keluarga dekat maupun jauh." (Durrul-Mantsur).
Hal kedua yang disabdakan di atas adalah tentang memutuskan silaturahmi. Umar bin Abdul Azis rah.a. berkata, "Barangsiapa memutuskan hubungan kekeluargaan, janganlah bergaul dengannya, karena saya melihat di dua tempat dalam Al-Qur'an bahwa laknat diturunkan ke atas mereka. Yang satu terdapat dalam surat Ar-Ra'd, dan yang kedua terdapat dalam surat Muhammad." (Durrul-Mantsur). Ayat yang terdapat dalam surat Muhammad telah dibicarakan di atas, yaitu setelah menerangkan masalah tentang memutuskan tali silaturahmi. Allah swt. berfirman, "Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah swt. Kemudian (Allah swt. telah menjadikan mereka tuli dari mendengar hukum-hukum-Nya) dan mebutakannya (dari melihat jalan kebenaran)." Umar bin Abdul Azis rah.a. mendapati dua lafazh tentang laknat dalam Al-Qur'an, sedangkan Zainal Abidin rah.a. mendapatinya di tiga tempat. Kemungkinan, di dua tempat itu ada dua lafazh tentang laknat, yakni dalam surat Ar Ra'd dan dalam surat Muhammad. Dan di tempat ketiga, mereka dikatakan sebagai orang yang sesat dan rugi, yang mirip dengan makna laknat, sebagaimana telah disebutkan dalam surat Al-Baqarah pada pembahasan sebelumnya.
Salman r.a. meriwayatkan sabda Nabi saw., "Jika telah muncul banyak pendapat, amalan telah banyak yang hilang, banyak ceramah, agama banyak ditulis tetapi tidak diamalkan, amalan seakan-akan telah dikunci, persatuan banyak dibicarakan tetapi hati mereka terpecah-belah, dan keluarga mulai saling memutuskan hubungan, maka pada waktu itu Allah swt. akan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Dan Allah swt. menjadikan mereka buta dan tuli.
Hasan r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jika manusia menampakkan ilmu dan menyia-nyiakan amalan, dan menampakkan rasa cinta dengan lisan tetapi hatinya menyimpan kebencian dan mulai memutuskan tali silaturahmi, maka Allah swt. pada waktu itu akan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya, membutakan mereka, dan menjadikan mereka tuli." (Durrul-Mantsur). Akibatnya, mereka tidak bisa melihat jalan yang benar, dan perkataan-perkataan yang benar tidak akan sampai ke telinga mereka.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa harumnya surga itu dapat tercium dari jarak yang sangat jauh, yaitu sejauh 500 tahun perjalanan. Tetapi bagi orang yang durhaka kepada orangtua dan memutuskan tali silaturahmi, ia tidak akan mencium bau surga. (Ihya').
Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata, "Ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw., beliau saw. bersabda, 'Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silakan berdiri, jangan duduk bersama kami.' Di antara yang hadir hanya ada satu orang yang berdiri, dan itu pun duduk di kejauhan. Kemudian dalam waktu yang tidak begitu lama, ia datang dan duduk kembali. Rasulullah saw. bertanya kepadanya, 'Karena di antara yang hadir hanya kamu yang berdiri, kemudian kamu datang dan duduk kembali, apakah sesungguhnya yang terjadi? Ia berkata, "Begitu mendengar sabda engkau, saya segera menemui bibi saya yang telah memutuskan silaturahmi dengan saya. Karena kedatangan saya tersebut, ia bertanya, 'Untuk apa kamu datang, tidak seperti biasanya kamu datang kemari.' Lalu saya menyampaikan apa yang telah engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampunan untuk saya, dan saya memintakan ampunan untuknya (setelah kami berdamai, lalu saya datang lagi ke sini). Rasulullah saw. bersabda, 'Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak turun ke atas suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturahmi.'"

Faqih Abu Laits rah.a. telah meriwayatkan hadits ini, akan tetapi penyusun kitab Kanzul-'Ummal telah mengatakan bahwa Ibnu Mu'in, salah satu perawi hadits ini adalah seorang pembohong. (Kanzul-'Ummal). Faqih Abu Laits rah.a. berkata, berdasarkan kisah ini dapat diketahui bahwa memutuskan tali silaturahmi itu merupakan dosa yang sangat besar sehingga orang yang duduk bersamanya tidak akan memperoleh rahmat Allah swt.. Karena itu sangat penting bagi orang yang telah melakukannya hendaknya segera bertaubat darinya dan menyambung kembali tali silaturahmi. Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada satu kebaikan pun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak ada satu dosa pun yang adzabnya akan cepat diperoleh di dunia, di samping akan diperoleh di akhirat, melebihi kezhaliman dan memutuskan silaturahmi." (Tanbihul-Ghafilin).
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa adzab memutuskan silaturahmi selain akan ditimpakan di akhirat, juga akan ditimpakan di dunia. Telah disebutkan dalam ayat ini, bahwa bagi mereka akan disediakan tempat kembali yang buruk.
Faqih Abu Laits rah.a. menulis sebuah kisah yang ajaib. Ia berkata bahwa di Makkah Mukarramah ada seorang yang shalih. Ia adalah seorang pemegang amanah yang berasal dari Khurasan. Orang-orang banyak yang mengamanahkan harta mereka kepadanya. Suatu ketika, seseorang telah mengamanahkan uang kepadanya sebanyak 10.000 dinar, karena ia akan bepergian untuk suatu keperluan. Ketika ia kembali, orang Khurasan itu telah meninggal dunia, lalu ia bertanya kepada ahli keluarganya mengenai amanah yang telah ia titipkan. Ketika mereka mengatakan tidak tahu, ia menjadi gelisah mengingat jumlah uang itu sangat banyak. Kebetulan, pada waktu itu ada pertemuan para ulama Makkah Mukarramah. Maka ia bertanya kepada mereka, sehubungan masalah yang sedang menimpanya, apakah yang harus ia lakukan. Mereka menjawab, "Orang itu sangat shalih. Menurut pendapat kami, ia adalah seorang ahli surga. Jika separuh malam atau sepertiga malam telah lewat, pergilah ke sumur Zam-zam, dan bertanyalah kepadanya sambil memanggil-manggil namanya." Kemudian orang itu melakukan apa yang mereka katakan itu sampai tiga hari, tetapi tidak mendapatkan satu jawaban pun. Kemudian menemui lagi ulama-ulama itu dan menceritakan keadaannya. Maka mereka mengucapkan:
dan berkata, "Kami takut jangan-jangan ia bukan ahli surga, sekarang pergilah ke suatu tempat, di sana ada sebuah lembah yang bernama Barhut. Di tempat itu ada sebuah sumur, serulah namanya di sumur itu." Orang itu pun melakukan apa yang dikatakan para ulama tersebut. Di sana, ketika baru memanggil satu kali saja, ia mendapat jawaban, "Hartamu masih terjaga. Karena aku tidak merasa aman dari anak-anakku, maka harta itu aku timbun di suatu tempat. Berbicaralah kepada anakku supaya ia mengantarmu ke tempat itu, dan galilah tanah lalu keluarkan hartamu." Ia pun mengerjakannya, kemudian ia mendapatkan hartanya sehingga orang itu dengan penuh keheranan bertanya kepada orang shalih tersebut, "Bukankah engkau orang yang shalih, mengapa engkau berada di tempat ini?" Kemudian terdengar suara dari sumur, "Di Khurasan ada beberapa keluargaku, tetapi aku telah memutuskan tali silaturahmi dengan mereka. Pada saat itu, maut telah datang kepadaku. Karena adzab itulah saya sekarang berada di sini." (Tanbihul-Ghafilin).
Diriwayatkan dari Ali Karramalldhu Wajhah bahwa lembah yang paling utama adalah Makkah Mukarramah dan lembah di India, di mana Nabi Adam a.s. telah diturunkan dari surga. Di tempat itu ada bau harum yang digunakan oleh orang-orang. Dan lembah yang paling buruk adalah lembah Ahqaf dan lembah Hadramaut yang dinamakan Barhut. Sumur yang paling baik di dunia adalah sumur Zam-zam, dan sumur yang paling buruk adalah sumur Barhut, di dalamnya ruh-ruh orang kafir berkumpul. (Durrul-Mantsur).
Beradanya ruh-ruh itu di tempat tersebut bukan merupakan dalil syar'i, tetapi ini merupakan perkara kasyaf bagi orang-orang yang dikehendaki Allah swt. Kapan saja dan di mana saja, Allah swt. dapat memberikan kasyaf kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tetapi kasyaf tidak dapat dijadikan dalil syar'i.

Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Bab 3 Silaturahmi - Ayat-ayat Tentang Ancaman Berbuat Buruk- Ayat ke-1

Ayat ke-1

"Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (Q.S. Al-Baqarah: 26-27).
Di beberapa tempat dalam Al-Qur'an, Allah swt. memperingatkan dan mendorong untuk bersilaturahmi, terutama dalam menjaga hak-hak kedua orangtua. Allah swt. juga memperingatkan agar kita tidak memutuskan silaturahmi, terutama dengan kedua orangtua. Sebagaimana sebelumnya, saya akan mengutip beberapa ayat Al-Qur'an.
Saudara-saudaraku, pikirkanlah, jika Allah swt. memperingatkan suatu masalah berulangkali, maka peringatan dari Allah swt. tersebut hendaknya dipikirkan dengan sungguh-sungguh dan hendaknya kita mengambil pelajaran darinya. Allah swt. berfirman:

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-nama-Nya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi." (Q.S. An-Nisa': 1).


"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan." (Q.S. Al-An'am: 151).


"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin." (Q.S. Al-Isra': 31).


"Dan orang yang berkata kepada kedua orangtuanya (ketika mereka mengajaknya beriman) "Cis" bagi karnu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, 'Celakalah kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.' Lalu ia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka.'" (Q.S. Al-Ahqaf: 17).

"Jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan kekeluargaan." (Q.S. Muhammad: 22).
Wasiat yang telah diberikan kepada Muhammad Baqir rah. a. oleh ayahnya telah disebutkan dalam Bab I Hadits ke-23 merupakan wasiat yang penting. la berkata, "Ayahku (Imam Zainul-Abidin rah.a.) telah berwasiat kepadaku, 'Janganlah duduk bersama lima jenis manusia. Jangan berbicara kepada mereka, bahkan jangan berjalan bersama mereka meskipun tidak disengaja. 1) Orang fasik, karena ia akan menjualmu hanya untuk sesuap makanan.' Ketika saya bertanya bertanya bagaimana ia akan menjual hanya untuk seseuap makanan, ayah saya berkata, la akan menjualmu hanya karena mengharap sesuap makanan, dan itu pun tidak akan ia peroleh. 2) Orang yang bakhil, karena ia akan memutuskan hubungan denganmu pada saat kamu memerlukannya. 3) Orang yang pembohong, karena ia akan menipumu. Sesuatu yang jauh akan dikatakan dekat, dan sesuatu yang dekat akan dikatakan jauh. 4) Orang yang bodoh, karena ia berkeinginan memberikan manfaat kepadamu, tetapi karena kebodohannya, ia justru merugikanmu. Sebuah peribahasa yang masyhur mengatakan: Musuh yang bijak itu lebih baik dari kawan yang bodoh. 5) Janganlah mendekati orang yang memutuskan tali silaturahmi, karena aku telah menemukan di tiga tempat dalam Al-Qur'an bahwa Allah swt. melaknat mereka.'" ( Raudh )




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Bab 2 Celaan Terhadap Kebakhilan - Hadits ke 5 dan 6

Hadist ke-5

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Kedermawanan adalah satu pohon di surga. Barangsiapa yang dermawan, ia telah memegang satu ranting darinya. Maka ranting itu tidak akan meninggalkannya hingga memasukkannya ke dalam surga. Dan bakhil adalah satu pohon di neraka. Barangsiapa berbuat kikir, ia telah memegang satu ranting darinya. Dan ranting itu tidak akan meninggalkannya hingga memasukkannya ke dalam neraka." ( H.R. Baihaqi dalam Syu'abul-Iman, Misykat )

Keterangan
Syuhh adalah tingkatan bakhil yang tertinggi. Masalah ini telah diterangkan dalam Bab I Ayat ke- 28. Maksudnya sudah jelas, jika kebakhilan merupakan satu pohon di neraka, maka barangsiapa yang menaikinya dengan memegang dahannya, maka ia akan sampai ke neraka. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Di dalam surga ada satu pohon yang bernama Sakha. Darinyalah kedermawanan tercipta. Dan di neraka Jahannam ada satu pohon yang bernama syuhh, darinyalah kebakhilan tercipta. Orang yang bakhil tidak akan masuk surga (Kanzul-'Ummal). Telah kita ketahui bahwa syuhh adalah tingkatan tertinggi kebakhilan. Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa kedermawanan adalah satu pohon dari pohon-pohon surga yang dahannya menjulur di dunia. Barangsiapa yang memegang salah satu dahannya, dahan itu akan menyampaikannya ke dalam surga. Dan kebakhilan adalah satu pohon dari pohon-pohon neraka yang dahannya menjalar di dunia. Barangsiapa yang memegang satu dahannya, dahan itu akan memasukkannya ke dalam neraka. (Kanzul-'Ummal).

Tentunya merupakan ketentuan yang jelas jika ada sebuah jalan menuju stasiun, maka orang yang berjalan melewati jalan itu suatu saat pasti akan sampai ke stasiun. Begitu juga dengan dahan-dahan ini, dahan pohon yang mana saja yang dipegang seseorang, maka ia akan sampai ke pohonnya.

Hadits ke-6

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Kebiasaan terburuk yang ada dalam diri seseorang adalah kebakhilan yang menjadikan seseorang selalu berkeluh kesah dan ketakutan, yang menyebabkan timbulnya perasaan seakan-akan mau mati." (H.R. Abu Dawud; Misykat)

Keterangan
Allah swt. dalam Kalam Suci-Nya juga telah memperingatkan dua kebiasaan buruk ini. Allah swt. berfirman :
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yaitu mereka yang dawam dalam mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apapun (yang tidak mau meminta). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. Orang yang takut terhadap adzab Tuhannya. Karena sesungguhnya adzab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji-janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga yang dimuliakan." (Q.s. Al-Ma'arij: 19-35).
Pembahasan secara menyeluruh, yang serupa dengan ayat ini juga telah disebutkan pada permulaan surat Al-Mu'minun. Imran bin Husain r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. sambil memegang ujung sorbannya bersabda, "Wahai Imran, Allah swt. sangat menyukai harta yang diinfakkan di jalan Allah, dan Dia tidak menyukai harta yang disimpan. Maka belanjakanlah hartamu berilah makan orang lain, jangan merugikan siapa pun agar kerugian tidak mengejarmu. Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh bahwa Allah swt. menyukai kehati-hatian terhadap hal-hal yang syubhat (hal yang samar) yakni bila menghadapi sesuatu yang meragukan, hendaknya mengambil sikap dengan berhati-hati. Jangan asal-asalan (melakukan apa saja yang diinginkan). Dan Allah swt. menyukai akal yang sempurna ketika syahwat memuncak (jangan sampai akal hilang pada waktu syahwat muncul). Dan Allah swt. menyukai kedermawanan walaupun hanya mengeluarkan beberapa biji kurma (yakni menurut kemampuannya). Jika tidak bisa memberi banyak, maka janganlah malu memberi meskipun hanya sedikit. Allah swt. juga menyukai keberanian, walaupun hanya dengan membunuh ular dan kalajengking." (Kanzul-Ummal). Takut kepada sesuatu yang tidak semestinya ditakuti tidaklah disukai Allah swt. Jika di dalam hati timbul juga perasaan takut, maka jangan ditampakkan. Tetapi dengan kekuatan, hendaknya menolak perasaan takut itu. Di antara doa-doa Rasulullah saw. yang diriwayatkan untuk pelajaran bagi umatnya adalah berlindung dari ketakutan. Dan dalam beberapa doa diriwayatkan agar memohon perlindungan darinya. ( Bukhari ).





Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Kamis, 23 September 2010

Bab 2 Celaan Terhadap Kebakhilan - Hadits ke-4

 Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya seorang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada seorang ahli ibadah yang kikir." ( H.R. Tirmidzi, Misykat ).

Keterangan
Orang yang sedikit mengerjakan shalat sunnah tetapi dermawan lebih disukai Allah swt. daripada orang yang banyak beribadah dan mengerjakan shalat sunnah panjang-panjang. Yang dimaksud ahli ibadah adalah orang yang banyak mengerjakan shalat sunnah. Sedangkan mengerjakan amalan fardhu itu merupakan kewajiban bagi setiap orang, baik ia dermawan atau tidak.

Diriwayatkan dari Imam Ghazali rah. a. bahwa suatu ketika Nabi Yahya bin Zakariya a.s. bertanya kepada syaitan, "Siapakah orang yang paling kamu sukai, dan siapakah orang yang paling kamu benci?" Syaitan menjawab, "Saya paling menyukai orang beriman yang bakhil. Dan yang paling aku benci adalah orang fasik yang dermawan." Maka beliau bertanya, "Mengapa demikian?" Syaitan menjawab, "Orang yang pelit/ bakhil karena kebakhilannya sudah cukup untuk membawanya ke neraka Jahannam. Akan tetapi aku selalu memikirkan tentang orang fasik yang dermawan, jangan-jangan karena kedermawanannya Allah swt. akan mengampuninya ( memberinya hidayah )." ( Ihya" Ulumiddin ). Yakni, Allah swt. suatu ketika akan ridha kepadanya karena kedermawannya. Kefasikan dan dosa seumur hidup tidak ada artinya dibandingkan dengan lautan ampunan dan rahmat-Nya. Dia berkuasa untuk mengampuni semuanya. Dengan demikian, usaha syaitan yang selalu membujuknya untuk melakukan dosa menjadi sia-sia.

Dalam sebuah hadits disebutkan, "Orang yang dermawan berarti berprasangka baik kepada Allah swt., dan orang yang kikir berarti berprasangka buruk terhadap Allah swt." ( Kanzul-'Ummal ). Orang yang berprasangka baik kepada Allah berarti memahami bahwa Al-Malik Yang Maha Memberi berkuasa memberinya lagi. Orang seperti ini sudah barang tentu tidak diragukan lagi kedekatannya kepada Allah swt.. Sedangkan orang yang berprasangka buruk kepada Allah berarti beranggapan bahwa hartanya akan habis, karena tidak ada sumbernya lagi. Orang seperti ini tentu saja jauh dari Allah swt., karena ia menganggap bahwa khazanah Allah swt. itu terbatas. Padahal, harta kekayaan itu berasal dari Allah svt., dan berbagai asbab untuk memperoleh harta itu sesungguhnya berada dalam genggaman kudrat-Nya. Bila Dia menginginkan, dapat saja para pedagang itu tidak memperoleh keuntungan sedikit pun, atau para petani menebar benih tetapi tanaman tidak tumbuh. Jika semua ini datang karena pemberian Allah swt., tentu tidak ada gunanya mengkhawatirkan bahwa harta yang disedekahkan akan habis. Masalahnya, setelah kita berikrar dengan lisan, kita tidak meyakini bahwa semua itu semata-mata merupakan pemberian Allah swt. dan kita tidak memiliki apa-apa. Para sahabat r.hum. memahami bahwa harta yang mereka miliki semata-mata merupakan pemberian Allah swt.. Mereka sangat yakin bahwa Dzat Yang memnberi hari ini, besok tentu akan memberi juga. Karena itu, mereka tidak berpikir panjang untuk membelanjakan semuanya.




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Bab 2 Celaan Terhadap Kebakhilan - Hadits ke-3

 "Dari Abu Dzar r.a., ia berkata, "Suatu ketika saya datang kepada Rasulullah saw.. Pada waktu itu, beliau sedang duduk di bawah naungan Ka'bah. Ketika melihat saya, beliau bersabda, " Demi Rabbnya Ka'bah, mereka adalah orang-orang yang rugi." Maka saya bertanya, "Saya korbankan ibu bapakku untuk engkau, siapakah mereka itu?" Rasulullah saw. bersabda, "Mereka adalah orang yang mempunyai harta yang banyak, kecuali orang yang berbuat begini dan begitu dari depannya dan dari belakangnya, sebelah kanannya dan sebelah kirinya. Akan tetapi orang seperti ini sangat sedikit." ( Muttafaq 'alaih, Misykat ).

Keterangan
Sebagaimana pernah dikemukakan, Abu Dzar r.a. adalah termasuk sahabat ahli zuhud. Setelah melihat Abu Dzar r.a., Rasulullah saw. bersabda sebagaimana telah disebutkan di atas, yang pada hakikatnya adalah untuk menghibur dirinya supaya tidak menghiraukan kefakirannya. Pada dasarnya, banyaknya harta dan barang bukanlah sesuatu yang dicintai (Allah). Bahkan harta yang banyak dapat merugikan dan membahayakan, karena dapat menyebabkan seseorang lalai dari mengingat Allah swt.. Kita dapat menyaksikan sendiri bahwa tanpa diuji dengan kemiskinan, sangat sedikit seseorang yang kembali kepada Allah swt. Adapun orang yang diberi taufik oleh Allah swt. untuk menginfakkan hartanya di mana saja dan dalam keadaan apa saja, bagi mereka harta tidaklah membahayakan.

Akan tetapi, Rasulullah saw. sendiri bersabda bahwa orang seperti itu sangat sedikit. Pada umumnya, jika terdapat banyak harta, maka juga akan banyak terjadi kefasikan, perbuatan dosa, dan kemaksiatan. Membelanjakan harta tidak pada tempatnya dan membelanjakannya untuk memperoleh kemasyhuran adalah daya tarik terendah di dalam harta kekayaan. Ribuan rupiah akan dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta perkawinan dan pesta-pesta yang lain, orang rela mengeluarkan uangnya ribuan bahkan jutaan rupiah. Akan tetapi, mengeluarkan uang sejumlah itu untuk menolong orang-orang yang memerlukan dan orang-orang yang kelaparan dalam rangka menunaikan perintah Allah sangatlah sulit.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang paling banyak hartanya di dunia, dialah orang yang paling sedikit hartanya di akhirat, kecuali orang yang mencarinya dengan jalan yang halal dan membelanjakannya begini dan begitu. ( Kanzul-'Ummal ). Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits terdahulu, begini dan begitu adalah isyarat untuk membelanjakan harta di semua tempat untuk kebaikan. Pada hakikatnya, harta adalah perhiasan dan kemuliaan bagi orang yang mau menyedekahkannya. Harta yang disimpan akan menjadi sebab datangnya musibah bagi orang yang menyimpannya. Harta itu akan membinasakan dirinya dan akan terlepas dari sisinya. Harta yang diperoleh dengan cara yang tercela tidak akan memberi manfaat kepada siapa pun, baik manfaat dunia maupun agama, selama harta tersebut tidak berpisah darinya.




Read More or Baca Lebih Lengkap ..

Rabu, 22 September 2010

Bab 2 Celaan Terhadap Kebakhilan - Hadits ke-2

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seorang penipu tidak akan masuk surga, demikian pula orang yang kikir dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian." (H.R Tirmidzi, Misykat).

Keterangan
Para ulama berkata bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas tidak akan masuk surga, Jika dalam diri seorang mukmin ditemukan sifat-sifat ini, maka Allah swt, terlebih dahulu akan memberi taufik kepadanya di dunia untuk bertaubat dari perbuatan buruk tersebut. Jika tidak, ia akan dimasukkan ke neraka terlebih dahulu untuk membersihkan dosa-dosanya. Setelah itu, barulah ia dimasukkan ke surga. Akan tetapi, walaupun untuk beberapa saat saja, dimasukkan ke dalam neraka tentulah tidak dapat dianggap remeh. Jika seseorang dicampakkan ke dalam api barang sebentar saja ketika di dunia ini, tentunya hal itu merupakan penderitaan yang luar biasa. Padahal, api di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan api neraka Jahannam.
Rasulullah saw. bersabda bahwa api dunia itu sepertujuh puluh api neraka. Para sahabat r.hum. bertanya, "Wahai Rasulullah, kurang apa lagi? Api (di dunia) ini saja sudah cukup menyakitkan." Rasulullah saw, bersabda, "Api neraka itu enam puluh sembilan kali lipat dibandingkan api ini." (Misykat).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang paling ringan siksanya di neraka adalah orang yang dipakaikan kepadanya dua sandal api Jahannam, sehingga otaknya mendidih seperti periuk yang mendidih di atas api. (Misykat). Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah swt. menciptakan surga 'Adn dengan tangan kudrat-Nya, kemudian Dia menghiasinya. Kemudian Dia menyuruh para malaikat supaya mengalirkan sungai-sungai dan menggantungkan buah-buahan di dalamnya. Ketika Allah swt. melihat perhiasan-perhiasannya dan keindahannya, Dia berfirman, "Demi kemuliaan-Ku, demi keagungan-Ku, demi ketinggian 'Arsy-Ku, orang yang kikir tidak bisa memasukimu." ( Kanzul-'Ummal ).


Read More or Baca Lebih Lengkap ..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

This blog wanna share to all of you about greatness and amazing benefit of sedekah or giving. You wanna find that if we make sedekah, it will not decrease your wealth.

Let's read and get yourself enlightened !!

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP